WIB Sesion 9

 

Kasus penganiyaan Audrey di Pontianak merupakan salah satu fenomena kerusakan moral dalam masyarakat saat ini.   Untuk meminimalisir kerusakan moral ini, pendidik diharapkan dapat memahami dan membantu dalam proses membentuk karakter peserta didiknya. Topik ini dibahas tuntas pada webinar IGI Bali  edisi khusus pada hari Minggu tanggal 14 April 2019 lalu dengan tema “Penguatan Praktik Baik Pendidikan Karakter Pada Anak”.  Webinar disajikan oleh Ibu Jentina Yulyanti sebagai pemateri.

Fenomena  di atas telah  mendorong pemerintah menerapkan Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa (KN-PKB) salah satunya dengan impelementasi pendidikan karakter dalam setiap institusi pendidikan, baik formal (sekolah), informal (keluarga) dan non formal (masyarakat).

Keluarga merupakan tempat pertama kali seorang anak belajar, sehingga keluarga adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam membentuk karakter seorang anak. Hal terpenting dalam pendidikan karakter adalah upaya membentuk kepribadian manusia melalui proses untuk mengetahui kebaikan (knowing the good) dan bagaimana mencintai kebaikan (loving the good).

Ada tiga ranah pendidikan karakter diantaranya adalah pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Ketiga ranah ini mendorong perbuatan mulia bisa terukir menjadi habit of mind, habit of heart dan habits of hands.

Dalam proses membentuk karakter seorang anak perlu menerapkan disiplin tanpa melukai harga dirinya,. Disiplin adalah tindakan koreksi yang tepat yang diberikan kepada anak yang melakukan pelanggaran untuk mendapatkan perubahan sehingga bertujuan untuk mendidik, meberikan akibat logis, fokus pada perilaku proporsional dan meningkatkan disiplin diri. Berbeda dengan penghukuman lebih condong pada menumpahkan kemarahan, memaksakan akibat yang dibesarkan dan tidak berkaitan, fokus pada perilaku buruk dan dapat mengganggu kemampuan belajar anak. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalam membangun disiplin seperti waktu berpikir, ruang teman akrab, ruang kesopanan, kartu pengendalian diri, dan tanda berpikir.

Bagi seorang pendidik, dalam manajemen kelas adalah membangun hubungan agar praktek baik dapat dilaksanakan dalam kelas. Untuk menciptakan prosedur dan rutinitas kelas maka harus dijelaskan prosedurnya, mempraktekkannya, kemudian mengajarkan dan menguatkannya kembali. Cara menggunakan wewenang untuk mencapai pengharapan dasar atas perilaku di kelas diantaranya menjadi model peran, memberi perintah hanya jika sangat penting, menjadi pemantau efektif, dan bertindaklah tegas dalam mengambil keputusan.

Hal penting yang perlu diingat adalah karakter anak terbentuk dan perilaku seorang anak merupakan cerminan dari bagaimana orangtua mendidiknya.

Bagaimana jalannya webinar secara lengkap dapat diakses pada dokumentasi video dibawah.

Terimakasih kepada pemateri, moderator, dan semua peserta yang telah menyukseskan jalannya webinar, untuk materi, daftar hadir dan e-piagam dapat diakses disini.

Sampai jumpa lagi pada WIB Sesion selanjutnya.
(agstina)

April 18, 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *